Flat Track Friday | Flat Track Racing Dari Masa Ke Masa

Flat Track Friday | Flat Track Racing Dari Masa Ke Masa

Des 13, 2019 History

Ini merupakan artikel pembuka di web site Gastank Magazine untuk secara rutin mengulas informasi seputar balap Flat Track yang lahir dan berkembang di Amerika dan mulai diminati custom enthusiast di Tanah Air.

Artikel seputar flat track ini akan kan kami upload setiap hari Jumat, dengan tagline Flat Track Friday. Tujuannya secara konsisten support informasi dan trend, mengenalkan balap trek oval ini lebih luas kepada para pecinta roda dua.

c-flattrack3.jpg

Dari Speed Freak Menjadi Legenda

Jiwa balap sepeda motor di Amerika, tak bisa lepas dari dirt track atau flat track. Ini adalah cikal bakal balap roda tertua di Amerika. Adalah para petani yang speed freak, yang menjadikan kompetisi ini melegenda.

1924 :

Lahan pertanian yang telah diratakan dan siap ditanami, menggoda pada speed freak. Dengan mengunakan tali sebagai pembatas arena berbentuk oval. Mereka memacu motor dan berlomba menjadi yang tercepat. Kompetisi sangat diminati seantero Amerika. 

1929 :

Pesona Flat Track Racing meredup lantaran Amerika didera krisis ekonomi. Hanya Class A yang masih bertahan meski hanya diikuti segelintir tim yang bermodal kuat. Maklum, Class A ini menjadi primadona lantaran pabrikan sering membalapkan motor prototipe yang jelas sangat susah diimbangi tim private.

1932 :

America Motorcycle Association (AMA) dibentuk dan langsung menggelar AMA  Pro Flat Track Racing dan mulai membuat Class C yang membolehkan pembalap menggunakan motor jalan raya. Agar biaya balap turun dan diharapkan makin banyak peserta.

c-Joe-Petrali.jpg

1934 – 1939 :

Class C menggeliat. Kelas ini menjadi primadona karena kemudahan mendapatkan motor untuk dibalapkan dan biaya balap yang relatif rendah. Harley-Davidson dan Indian jadi andalan tim.

1942 :

Amerika terlibat Perang Dunia II dan menjadikan Flat Track Racing kembali terpuruk. Semua pihak terpaksa ikut repot dan semua perhatian tertuju pada peperangan.  Ketika peperangan mereda 1945, balap ini kebablasan lesu hingga beberapa tahun ke depan. Dalam kurun 7 tahun, AMA hanya menggelar 1 kali balap!

1954 :

AMA menggelar balap dengan beberapa kelas. Kelas mile-long dirt track, half-mile dirt track, short-tack, TT steeplechase, dan  road race di sikuit aspal.

1955 :

Pabrikan motor Indian, berhenti balap dan tinggal Harley-Davidson yang masih aktif sendirian.

1960 :

Motor makin merasuk ke jiwa dan mulai menjangkiti insan film. The Wild One (1953), Rebel without a Cause (1955) dan The Great Escape (1963).

1960-an :

BSA dan Triumph asal Inggris mulai ikutan balap AMA ini. Bahkan beberapa kali mencuri podium yang selama ini milik H-D.

1960 – 1970 :

Flat Track Racing menikmati jalan keemasan. Jumlah event banyak, Selain Inggris, Yamaha asal Jepang juga mulai balap. Meski akhirnya, pabrikan Inggris akhirnya  tekor dana dan stop balap. Tinggal H-D dan Yamaha yang berkompetisi.

Akhir 1970 – Awal 1980 :

Teknik balap mencapai puncaknya. Tenaga motor makin kuat/ besar dan skill pembalap pun sudah piawai. Jika selama ini hanya roda belakang yang sliding untuk mengarahkan motor, kini roda depan juga sliding untuk mempertajam belokan sambil mempertahankan kecepatan. Namun sayang, ongkos balap makin besar dan support pabrikan berkurang. Membuat banyak tim berhenti balap dan pembalap menganggur.

1980 :

Lagi-lagi, tinggal H-D yang balap dan Flat track racing kembali meredup. Selain kondisi ekonomi, membuat sirkuit oval juga makin sulit karena keterbatasan lahan dan biaya tribun yang mahal.

Akhir 1980 :

Masyarakat motor ‘beralih’ ke motocross yang pembuatan sirkuitnya relatif mudah. Flat track makin terlupakan setelah Supercross yang hadir melengkapi kompetisi motocross yang terus ada.

c-flattrack2.jpg

c-molak%20malik%20malang%202019%2014.jpg

Flat Track Racing mati? Tidak. Salut pada Harley-Davidson yang tetap menjaga bara api kompetisi ini, mesti balap digelar di sudut kota. Dengan segala keterbatasan pelaku balap dan perank-perniknya, hampir 25 tahun belakangan ini.

Penulis: Yuli Haryadi, Foto: Istimewa.