Old School BMX Jakarta Kembali Jawara di Negeri Jiran

Old School BMX Jakarta Kembali Jawara di Negeri Jiran

Ags 20, 2019 Gastank Family

Old School BMX (OSBMX) Jakarta merupakan fun community yang menyediakan ruang bagi mereka pecinta BMX old school. Selain menyalurkan hobi dan olahraga secara bersamaan, OSBMX menjadi ruang untuk menghidupkan kembali masa-masa indah bersama BMX klasik.

Dari sejarahnya sendiri dimulai pada 1970-an di mana sebuah badan pengamanan untuk BMX didirikan di AS yang kemudian dianggap sebagai langkah awal balap BMX secara resmi. Pada 1981, Federasi BMX Internasional didirikan dan setahun kemudian kejuaraan dunia pertama diselenggarakan. Kemudian sejak Januari 1993, BMX terintegrasi sepenuhnya ke dalam Union Cycliste Internationale (UCI).

Salah satu momentnya adalah saat film E.T: The Extra-Terrestrial yang rilis pada tahun 1980-an, memicu tren baru dan melonjakkan produksi BMX. Bicycle motocross atau lebih popular sebagai BMX adalah sepeda off-road yang digunakan untuk balap kecepatan dan akrobatik yang popular di negara-negara Eropa, Amerika dan Australia. Peminatnya dari remaja hingga dewasa. Di Indonesia sendiri BMX menjadi olahraga yang popular. Pada Olimpiade Rio 2018 lalu Indonesia sampai mengirim atlet elitenya untuk berlomba di BMX SX.

Dengan semakin banyaknya penggemar BMX, maka bermunculan juga komunitas BMX terutama di Jakarta, salah satunya OSBMX ini dengan aggota aktif puluhan orang. OSBMX sendiri merupakan komunitas terbuka tanpa ada struktur organisasi. “Latar belakangnya ingin bernostalgia dengan sepeda BMX. Karena dulunya para membernya adalah anak-anak hingga remaja yang sangat gemar mengendarai BMX. Setiap minggu kita kumpul dan berlatih di Bundaran HI atau sekitar patung panahan Senayan,” papar Abdul Latif, pendiri OSBMX Jakarta. 

c-old%20school%20bmx%20jakarta2.png

c-old%20school%20bmx%20jakarta1.png

Anggotanya mulai dari remaja hingga orang tua, bahkan ada yang usianya 60 tahun, untuk bernostalgia dan bersenang-senang bersama. “Ini juga jadi salah satu tujuan kita, buat mengundang generasi muda,” imbuhnya.

Meski bukan pemain freestyle profesional, mereka juga kerap berlatih trik BMX, seperti back lift dan berbagai gaya jumping, menggunakan berbagai jenis sepeda klasik seperti GT Performer Mach One, Skyway, Hutch, Haro, Raleigh Burner, Pro Raider dan banyak lagi. Maklum, komunitas ini memang sedang fokus pada pengembangan freestyle dengan tipe old-school.

OSBMX juga termasuk rajin mengadakan dan mengikuti berbagai kegiatan dan kontes baik dalam dan luar negeri. Belum lama ini, Latif bersama keempat anggota lainnya baru saja mengikuti kontes freestyle pada Kcar X Bmx Back to 80's di Malaysia pada 7 Juli lalu. “Kontes freestyle di Malaysia ini untuk yang ke-8 kalinya, dan kemarin anggota kita Angga, juara 2 di sana,” sambungnya.

Menurutnya, di Malaysia, Thailand bahkan Singapura BMX memang sedang booming-boomingnya. Di Malaysia misalnya, ada saja kontes BMX yang digelar saban bulannya di tiap region.

“Bisa dibilang kalau event, Malaysia lebih aktif ketimbang kita. Di sana memang ada semacam sponsor tunggal. Mereka bisa jor-joran buang duit buat bikin event. Di sini agak susah. Dan kebetulan juga BMX ynag gue mainin bukan BMX prestasi tapi lebih cenderung ke hobi,” lanjutnya lagi.

Pemain-pemain OSBMX kerap menjadi jawara pada kontes freestyle dan cukup diperhitungkan oleh pemain negara lain. “Yang pasti sih tujuan kita sering kenapa adalah untuk menunjukkan kalau Indonesia tuh main old school-nya. Khusus old school. Karena bisa dibilang peminatnya pun tidak sedikit. Kalau di sana hanya ramai pada saat event saja, kita ramenya tiap minggu,” punkas Latif.

Teks: Wildaf, Foto: Istimewa.