Solo Riding Jogja-Manado Dengan H-D WL 1945

Solo Riding Jogja-Manado Dengan H-D WL 1945

Sep 27, 2019 Gastank Family

Keindahan dan kekayaan Indonesia telah banyak menarik banyak orang untuk menjelajahi lebih jauh alam dan budayanya. Termasuk Lili Cosmas Sudrajat, penggemar motor tua asal Yogyakarta.

“Bagi saya, merawat dan riding dengan motor tua menjelajah nusantara, menikmati alam, budaya dan persaudaraan di sepanjang perjalanan adalah satu hal yang sangat menyenangkan hati sekaligus menantang,” kata Lili Cosmas. 

Setelah pada awal tahun lalu ia menyelesaikan solo riding Jogja-Flores, belum lama ini ia juga baru saja menyelesaikan solo riding Jogja-Manado pada pertengahan tahun ini dengan motor kesayangannya, sebuah Harley-Davidson WL 1945.

Ia ingin membagi sepenggal cerita di setiap tempat yang disinggahi. Cerita bagaimana ‘menaantangnya’ ber-solo riding dengan motor tua, kejadian-kejadian yang tak terduga, dan bagimana tekad yang kuat bisa mengalahkan gangguan-gangguan selama di perjalanan yang bisa saja menggagalkan misinya. Sejatinya, Manado bukanlah tujuan utama, melainkan kenikmatan dari perjalanan itu sendiri. Melalui perjalanan ini juga, menjadi salah satu caranya untuk melestarikan keberadaan motor-motor tua/klasik di Indonesia.

Tentu saja, kami dengan senang hati ingin mendengar dan membagikannya pada yang lain. Persiapan yang dilakukan Lili Cosmas terhitung sangat mepet, karena ia harus membagi waktu dengan keluarga sebagai yang paling utama. Selanjutnya, perjalan pun dimulai. Berikut catatan langsung dari Lili Cosmas Sudrajat.

15 Juli 2019 - Mempersiapkan kendaraan, H-D WL 1945

Di garasi ada beberapa motor yang bisa saya pakai untuk jalan. Tapi entah kenapa saya memilih H-D type WL ini untuk menemani perjalanan saya, bisa jadi karena motor ini unik cara mengemudinya dan terkenal bandel. Memulai persiapan dengan mengganti kampas rem belakang yang sudah aus, setor kampas rem di tukang kampas rem pagi hari dan diambil siangnya, dilanjutkan ke tukang bubut untuk memperbaiki baut as roda belakang yang dol. Selanjutnya mengambil tas bagasi (tas kulit) yang diservis di tukang sol sepatu. Malam harinya memasang kampas rem, di sini terdapat kendala, karena kampas rem yang dibuat terlalu tebal, mesti sabar mengikis kampas rem dengan kikir dan gergaji agar dimensinya sama dengan tromol. Sedikit memakan waktu ditemani teman-teman yang kebetulan main ke rumah. Kira-kira midnight kelar deh masang kampas rem dan as roda belakang.

16 Juli 2019 - Test ride dan begadangan ngoprek motor

Motor sudah ready, saatnya test ride... Aki fully charged, jalan ke Sleman ke tempat teman sekalian ngetests dinamo pengisian aki. Test ride lancar.., tapi sepertinya dinamo pengisian kurang bagus. Lampu meredup saat RPM rendah. Hmm jadi agak ragu-ragu, karena untuk motor H-D type WL ini aki adalah nyawa untuk sistem pengapian, jadi dinamo pengisian aki mutlak harus sehat. Sore hari sehabis antar jemput anak-anak, lanjut ngecek motor. Karena ragu-ragu diputuskan untuk mengganti dinamo pengisian dengan backup dinamo yang ada, bongkar-bongkar mesin lagi, malam sekitar jam 9 kelar. Check lampu ternyata lampu jarak jauhnya putus., karena sudah malam nggak ada yang jual lampu. Diputuskan mengganti lampu dari lampu motor lain. Diambilah lampu halogen dari motor Indian. Kelar masang lampu, dilanjut dengan penambahan oli mesin dan gearbox yang sudah berkurang. Kelar sekitar tengah malam. lanjut packing bekal ( perlengkapan pribadi, kaos, dan alat-alat yang sekiranya perlu dibawa) kelar sekitar jam 1 dini hari.

17 Juli 2019. Perjalanan Jogja-Surabaya yang penuh drama

Pukul 1:30 dini hari, semua persiapan selesai. Hmm badan capek semua. Saya pikir badan tetap nggak kuat kalau langsung riding saat itu juga karena sudah semalaman begadang. Akhirnya tepar, tidur sejenak kira-kira 2 jam. Jam 3: 30 bangun, membangunkan Bu Kapolda (sebutan untuk istri), sekalian pamit mau jalan.

Motor dikeluarkan, diengkol dan nyala, tapi hanya sebentar, setelah itu nggak mau nyala lagi, aki tekor!!! Gawat nih... tetep semangat, masuk garasi lagi, charge aki 5 menit dan hidupkan motor.. nyala, langsung deh tancap gassss. Setelah riding beberapa saat, masalah lain timbul, setiap RPM agak rendah lampu meredup, indikasi aki akan tekor. Ternyata lampu hallogen yang terpasang watt nya terlalu besar. Suplly arus yang masuk ke aki tidak seimbang dibandingkan dengan konsumsi arus listrik. Alhasil setiap motor pelan (berhenti di traffic light) lampu dimatikan., hal itu yg dilakukan agar aki jangan sampai tekor/kehabisan daya. Kira-kira 10 km dari rumah, di daerah Prambanan, masalah lain timbul. Silencer knalpot lepas! Berhenti sejenak diperbaiki, kelar dan lanjut gass.

Kira-kira di daerah Ceper Klaten, knalpot lepas lagi, kali ini lepas termasuk clamp pengikatnya. Hadeeehh... menepilah kita, sialnya lampu telat dimatikan. Temporary ikat knalpot dengan cable ties. Kelar beresin knalpot, coba nyalakan motor. Diengkol berkali-kali tetap nggak mau.. positif aki tekor. Waktu itu jam masih menunjukkan pukul 4:30, belum ada toko buka, motor lalu saya dorong beberapa meter ke depan, di situ ada warung kopi tempat sopir-sopir truk berhenti. Jadilah istirahat dan ngopi di situ sambil mikirin apa yang mesti dilakukan.

Lalu saya tanyakan ke penjaga parkir di situ, apakah punya potongan kabel listrik 1 atau 2 meter, saya butuh untuk nge-jamper motor. Setelah tanya ke pemilik warung teryata nggak punya. Saya coba tanya juga ke seberang jalan, hasilnya nihil. Pak tukang parkir berusaha menanyakan ke tetangga sekitar, akhirnya didapatlah kabel yang dipakai untuk menggantung kandang burung, terlihat kabel itu tak sempurna.. sudah banyak gigitan tikus, but it’s OK. Setelah mendapat kabel itu, lalu saya minta ijin ke pemilik Honda Beat yang terparkir di situ untuk membuka cover aki agar saya bisa jamper aki dari motornya.

Akhirnya aki WL saya berhasil dihubungkan dengan aki Honda Beat tersebut. Lalu WL saya engkol dan motor hidup. Motor saya biarkan hidup stationer untuk beberapa saat sambil saya membereskan kabel-kabel dan aki yang ada di Honda Beat. Kelar semua saya memohon kepada pemilik kabel agar kabel itu bisa saya bawa dan saya akan ganti dengan uang, tetapi bapak itu tidak setuju, malahan dia menyuruh saya membawa kabel itu tanpa harus menggantinya. Saya sangat berterima kasih. Beres semua dan yakin motor sudah sehat, lalu saya selesaikan pembayaan kopi dan saya beri uang secukupnya kepada bapak penjaga parkir sebagai tanda terimakasih.

Perjalanan dilanjutkan, kira-kira 5 km perjalanan, knalpot kembali lepas, saya hentikan motor dan saya putuskan untuk sementara waktu melanjutkan perjalanan tanpa menggunakan silencer knalpot sambil menunggu toko besi buka. Jadilah perjalanan Kartasura hingga Ngawi tanpa knalpot . Kira-kira jam 8: 30 saya sampai di Ngawi, saya berhenti di toko bahan bangunan dan membeli kawat untuk mengikat knalpot, belinya mesti 1 kg karena tidak ada potongan kecil. Saya riding beberapa km ke depan dan berhenti di deretan warung di samping pom bensin. Nah di sini saya istirahat dan sarapan. Kelar sarapan mulailah saya memasang kenalpot yang lepas. Saya buat ikatan yang kuat dan berulang ulang, tapi tetep saja kawatnya sisa banyak banget. Kelar semuanya, saya meninggalkan warung itu dan sisa kabel saya tinggalkan ke pemilik warung tersebut.

Kira-kira pukul 11:00, sampailah saya di Jombang, berhenti di pom bensin dan mengisi bensin. Saya gunakan kesempatan ini juga untuk mengecek level oli mesin dan oli gearbox, done, semua oke. Setelah check kondisi bagian-bagian lain, baru nyadar, tas kulit sebelah kiri yang berisi baju-baju dan perlengkapan pribadi hilang..!! Jatuh entah dimana. Berhubung waktu yang semakin mepet dengan keberangkatan kapal dari Surabaya ke Makassar, diputuskan untuk tidak mencari dimana tas itu jatuh, lagi pula dari Ngawi ke Jombang adalah jarak yang cukup jauh jika saya harus balik kasana dan mencarinya.

Perjalanan dilanjutkan. Kira-kira pukul 1:30, sampailah saya di jalan Ahmad Yani Surabaya. Saat itulah saya buka HP dan booking tiket kapal dari Surabaya ke Makassar. Setelah makan siang seadanya (nasi campur), perjalanan saya lanjutkan ke arah Tanjung Perak. Di sini saya berhenti di sebuah mini market untuk membeli perlengkapan pribadi yang ikut hilang jatuh bersama tas saya, seperti kaos, celana dalam, sikat gigi, handuk dan lainnya. Bisa kebayang kan bawa banyak barang pake tas plastik. Untuk mempermudah mobilitas, saya putuskan untuk membeli tas ransel di salah satu mall di sekitar situ. Didapatlah tas tersebut, pada saat mau membayar, ada masalah lagi, ATM hilang, hadeh, rupanya tertinggal di minimarket yang baru saja saya tinggalkan. Karena waktu yang mepet jadilah pembayaran cash dan ATM saya blok melalui call center.

Kira-kira jam 5 sore saya start memasuki kapal Dharma Rucitra VII yang akan membawa saya dari Surabaya menuju Makassar. Lega deh, target riding hari pertama tercapai, Jogja-Surabaya, dan nggak ketinggalan kapal. Masuk ke kapal kondisi masih sepi, karena penumpang yang mengendarai motor didahulukan untuk masuk, jadi kita bisa bebas memilih tempat tidur.

Kapalnya cukup bersih baik tempat untuk tidur maupun toiletnya, layak lah. Nah, dari sini saya mulai kontak teman-teman saya di Makassar bahwa saya akan kesana, responnya sangat bagus, mereka akan menunggu kedatangan saya di Makassar. Seperti perhitungan saya, sampai di kapal badan pasti sudah lelah karena seharian riding, jam 8 malam saya sudah tepar, tidur sampai pagi hari berikutnya

18 Juli 2019 - Menikmati perjalanan di kapal Surabaya-Makassar

Pagi kira-kira pukul 4 pagi saya terbangun, masih ada sinyal HP artinya saya masih dekat dengan daratan. Usut punya usut ternyata kapal baru start dari Surabaya jam 1 dini hari, artinya mundur 7 jam dari jadwal keberangkatannya yang seharusnya jam 6 sore. But it’s OK, tidak berpengaruh pada rencana perjalanan saya. Sepanjang hari itu saya gunakan untuk mengelililngi kapal dan berkenalan dengan penumpang-penumpang yang lain.

Sangat kebetulan juga di kapal ini saya berbarengan dengan beberapa komunitas bikers NMax yang akan mengadakan tour gabungan dari Makassar ke Manado. Klop deh, kami saling bertukar nomor telepon dan bercerita tentang pengalaman-pengalamn riding kami. Perjalanan di kapal ini sangat menyenangkan, kebetulan juga ombak tidak terlalu kencang. Kami mendapatkan makan 3 kali sehari dengan menu-menu sederhana, seperti telor dadar, secuil ayam goreng ataupun ikan dengan sedikit sayuran, buat saya ini nikmat sekali. Sesekali sayapun pergi ngopi di restoran yang disediakan, overall mantaaapp!

19 Juli 2019 - Tiba di Makassar dan bertemu teman-teman sehobby motor tua.

Kira-kira pukul 1 siang, kapal merapat di pelabuhan, sampailah kita di Makassar. Dari kapal sudah terlihat teman-teman saya dari MACI Makassar menunggu di pelabuhan. Duh bahagianya, kami pun bertemu dan saling berpelukan. Mereka sangat senang atas kedatangan saya, mungkin dikarenakan tak banyak rekan-rekan motor tua yang riding ke Makassar/Sulawesi. Langsung deh dari pelabuhan kita menuju Jalan Onta Lama untuk makan siang dan menimati makanan khas Makassar, Pallubasa. Hmmm ledzatnya olahan daging sapi dan jeroannya bikin kita ketagihan dipadu dengan kuah hangat yang kaya rempah. Mantap sekali.

Kelar makan siang kita berkunjung ke tempat salah satu teman yang buka kedai kopi, ngopi-ngopi disini dan tak lama kemudian makin banyak teman-teman motor tua berdatangan dan berkumpul di sini, duh senangnya… kami ngobrol banyak.

Mumpung hari masih sore, saya gunakan juga kesempatan di Makassar ini untuk membeli perbekalan yang saya butuhkan untuk kelancaran perjalanan saya, karena bisa dibayangkan selepas dari Makassar mungkin tak mudah untuk mendapatkan barang yang saya butuhkan.

Di sini saya beli oli mesin, oli gearbox, aki kecil untuk back up, dan beberapa spare baut. Kelar dari belanja barang-barang kebutuhan, kita pindah tempat kongkow ke salah satu sesepuh Motor Tua di Makassar, makin ramai saja teman-teman berkumpul. Mereka sangat antusias dan support untuk melengkapi barang yang saya butuhkan, seperti sambungan rantai, simcard Telkomsel, ataupun karet pengikat bagasi.

Malam harinya saya singgah di rumah Bapak Intsia yang menjabat MACI Korwil Makassar. Sampai di sinipun teman-teman masih tetap menemani saya dan makan malam bersama. Saya gunakan kesempatan ini untuk mengecek motor kembali. Saya mengganti oli mesin dan oli gearbox, menyetel kekencangan rantai, dan saya pun membongkar mesin, membuka dynamo pengisian untuk memastikan pin yang saya pasang saat di Jogja tidak patah atau lepas. Setelah saya merasa yakin dan nyaman barulah saya beristirahat, jam saat itu menunjukkan hampir jam 12 malam.

20 Juli 2019 - Indahnya Makassar-Tana Toraja

Pagi itu, setelah mengambil sambungan rantai di tempat salah seorang teman (Om Zet), maka pukul 06:00 saya start meninggalkan Makassar. Sepanjang perjalanan saya sangat senang, jalan mulus dan hamparan sawah hijau di daerah Maros sungguh memanjakan mata kita, Indonesia memang kaya!

Sekitar jam 10:30 saya berhenti di perbatasan masuk ke kota Parepare. Di sini saya bertemu dengan sekumpulan remaja penggemar Yamaha Vixion. Senang sekali bisa bertukar cerita, sekaligus menanyakan kepada mereka jalur terbaik menuju Tana Toraja, dan mereka menyarankan saya untuk lewat jalur Pirang-Enrekang-Tana Toraja.

Memasuki kota Parepare hujan mulai turun, saya tepikan motor sekalian istirahat sambil menunggu hujan reda. Minum kopi dan makan mie instan di sebuah minimarket, sekalian membeli jas hujan. Setelah hujan reda saya teruskan perjalanan, saya berhenti sejenak di kota Parepare tepat di depan monumen Cinta Sejati Habibie Ainun, selfie dan berfoto-foto sejenak di sini, terlihat juga rombongan ibu-ibu yang berfoto juga disini.

Melanjutkan perjalanan melalui Pinrang menyusuri jalan yang agak kecil dan sampailah di kota Enrekang, saya berhenti sejenak di sini untuk mengecek oli gearbox, aman. Setelah melewati Enrekang tibalah saya di daerah pegunungan, di sini ada gunung yang orang sering menyebutnya Gunung Nona, bentuknya mirip (*maaf alat kelamin wanita), saya pikir itulah kenapa disebut Gunung Nona.

Saya berhenti sejanak disini di sebuah warung makan. Hmm.. menikmati sup kepala ikan, dinginnya hawa pegunungan sambil menikmati pemandangan alam sungguh nikmat. Pemandangan sepanjang jalan setelah Gunung Nona menuju Tana Toraja sangatlah memanjakan mata, perbukitan yang hijau disertai lembah dan bebatuan yang menjulang tinggi sangatlah indah sampai2 tak sadar bensin saya menipis, jadi saya beli bensin eceran di sini.

Kira-kira pukul 17:00 sampailah saya di pintu gerbang memasuki Tana Toraja, di sini saya berhenti untuk mengambil foto. Tanpa sengaja saat yang bersamaan ada serombongan wisatawan yang berhenti pula disini, merekapun sangat senang menggunakan motor saya sebagai obyek property foto-foto mereka, senang deh bisa bikin orang lain senang juga.

Kira-kira pukul 17:30 saya memasuki ibukota Kabupaten Tana Toraja yakni Makale. Di pusat kabupaten ini terdapat kolam besar yang di tengahnya terdapat patung Lakipadada, seorang bangsawan dari Tana Toraja yang dipercaya sebagai mitos lahirnya beberapa kerajaan besar di Sulawesi. Selesai menikmati senja di Makale, perjalanan dilanjutkan ke Kete Kesu, di sinilah saya menginap di rumah seorang teman (Endy Ell) yang masih termasuk kerabat dekat keluarga besar pemilik Kete Kesu. Sangat kebetulan sekali malam itu sedang diadakan Toraja International Festival di Kete Kesu. Jadilah malam itu saya menikmati sajian tari-tarian tradisional Tana Toraja sambil meneguk kopi khas Toraja, hmmm lelah yang terbayarkan.

21 Juli 2019 - Lolai, Negeri diatas awan

Pagi itu saya bangun pagi, pukul 5:30 saya sudah mandi. Target hari ini adalah mengunjungi Kampung Lolai, “Negeri di Atas Awan”, jadi saya mesti start pagi-pagi, karena dengar-dengar kalau sudah agak siang awannya kabur. Hahaha. Tak begitu jauh dari Kete Kesu, mungkin kira-kira hanya 10 km kita riding melalui jalan sempit menanjak dan berliku-liku. Asik sekaligus mendebarkan melalui jalan-jalan seperti ini, maklum momong H-D WL mesti ekstra hati-hati, power yang pas-pasan dan rem yang Senin-Kamis, direm Senin berhentinya Kamis, hahaha.

Kira-kira pukul 6:30 sampailah saya di Lolai, tempat dengan ketinggian 1200 m di atas permukaan laut ini menawarkan pemandangan yang menakjubkan, seperti lembah dan hamparan sawah terasering, berikut pemandangan perbukitan khas pegunungan yang dihiasi gulungan awan yang berada di bawah kita, sungguh sangat indah.

Puas menikmati pemandangan di Lolai sayapun balik ke Kete Kesu. Setelah selesai mempersiapkan motor (isi oli mesin dan oli gearbox) saya pun bergegas meninggalkan Kete Kesu. Sebelum meninggalkan kabupaten Tana Toraja, ditemani tuan rumah saya mencicipi masakan khas Toraja, tak lupa pula saya membeli beberapa bungkus kopi Toraja.

Perlahan kita membelah kesunyian menuruni perbukitan antara Tana Toraja dan Palopo, daerah tujuan berikutnya di pesisir timur Sulawesi Selatan. Sepanjang perjalanan ditemani pemandangan yang indah, tebing, pepohonan yang rimbun, lembah dan jurang yang kadang berkabut.

Kira-kira 2 jam, sampailah saya di Palopo dan dijemput oleh Pak Hendry, teman sesama penggemar motor tua asal Jogja. Saya berencana menginap semalam di sini. Lagi-lagi waktu yang ada saya gunakan untuk mengecek sepeda motor, seperti mengencangkan rantai dan mengatur kekencangan kabel rem depan. Di palopo ini juga saya membeli lampu LED untuk mengganti lampu utama yang terlalu besar watt nya, yang kemudian saya pasang di engine guard. Setelah makan ikan bakar pada malam harinya, sayapun beristirahat agar besok harinya siap riding kembali.

22 Juli 2019 - Air terjun Saluopa surga tersembunyi di Tentena

Hari ini pukul 5:15 saya sudah start riding dari Palopo. Kira-kira pukul 7:00 sampailah saya di kota Masamba, kota kecil yang rapi dengan bandar udara yang terletak di tengah-tengah kota. Perjalanan dilanjutkan, setelah melewati Bonebone sampailah saya di Tomoni. Ada hal lucu terjadi disini, pada saat saya antri untuk membeli bensin di Pom bensin, saya lihat antrian sepeda motor yang begitu panjang, akan tetapi yang hal mengherankan, begitu saya masuk ke pom bensin, mereka semua menyuruh saya langsung antri paling depan, bahkan mereka menyarankan antri dari arah yang berlawanan agar saya langsung bisa mendapat bensin tanpa harus antri.

Di antara merekapun ada yang bilang “cepat mas, langsung ke depan saja, sebelum kehabisan”. Saya sangat heran, baik sekali warga di sini. Beberapa saat kemudian keheranan sayapun terjawab, ternyata deretan sepeda motor yang sedang antri di pom bensin itu adalah para pedagang bensin eceran yang membeli bensin untuk dijual kembali, mereka sengaja mengcustom tangki-tangki motor mereka menjadi ukuran jumbo extra besar, mungkin muat sampai 30 liter, sungguh ini pengalaman yang belum pernah saya lihat sebelumnya, saya tersenyum-senyum sendiri melihatnya.

Selepas Tomoni, inilah rute yang agak menantang, yaitu melewati hutan lindung Mangkutana yang terpampang tinggi di depan. Masuk hutan lindung ini diawali dengan beberapa tanjakan dan kelokan, tak jarang juga beberapa ruas jalan rusak dan terpotong oleh tebing yang longsor, hmm serem.

Ada juga beberapa ruas jalan dengan tebing menjulang di satu sisi dan jurang dalam di sisi lainnya, pemandangannya bagus sih, tapi tetep kudu ekstra hati-hati. Melaju semakin dalam ke hutan kita akan menemui beberapa daerah yang gelap karena kiri-kakan dan atas tertutup pepohonan, seolah-olah kita masuk ke dalam gua, agak gelap dan dingin.

Di dalam hutan ini pula kita akan menjumpai air terjun yang indah di sebelah kanan jalan, hmm sayangnya jalannya terlalu sempit dan membahayakan jika saya berhenti di situ. Kira-kira 2 jam perjalanan sampailah saya di Pendolo, disini saya berjumpa dengan rombongan Vespa dengan style “sampah” sedang parkir di pom bensin. Ternyata mereka adalah rombongan Vespa dari Tasikmalaya dengan tujuan Manado. Mereka sudah stay di pom bensin itu selama 3 hari dikarenakan tromol yang rusak dan menunggu kiriman tromol dari Jawa. Salute dengan nyali dan kekompakan mereka.

Melewati Pendolo daya tahan tubuh saya mulai menurun, saya mulai terserang flu, hidung saya meler disertai badan lemas dan ngantuk. Khawatir terjadi apa-apa, saya pun menepi untuk beristirahat. Di bawah pohon yang rindang saya beristirahat, kebetulan juga di situ ada beberapa petani sedang mengerjakan lahannya, saya pun beristiahat sambil ngobrol-ngobrol dengan mereka.

Di sini pula perut saya mulas, pertanda mau buang air besar. Waduh, kacau juga nih, nggak ada toilet, ngak ada air, trus bagaimana?? Karena sudah nggak kuat nahan, masuklah saya ke rerimbunan semak semak, jadilah buang air besar disitu, air nggak ada, tisu nggak bawa. Trus bagaimana dong? Hmm daun pisang menyelesaikan semuanya, hahahaha.. Dirasa cukup saya lanjutkan perjalanan. Kira-kira pukul 3 sore sampailah saya di Tentena, di sini saya sudah ditunggu Om Noldy dan teman-teman dari forum Bikers Tentena, mereka menawarkan agar saya menginap di sini. Ajakan merekapun saya iyakan.

Langsung deh, sebelum kesorean, mereka mengajak saya mengunjungi air terjun Saluopa. Perjalanan dari Tentena ke air terjun tersebut kira-kira 10 km, menyusuri persawahan hijau di tepi Danau Poso, sangat indah. Setelah memarkir motor, kita berjalan kira-kira 500 meter menuju air terjun Saluopa, tak seperti air terjun pada umumnya yang biasanya jalan menuju air terjun berupa jalan menurun yang curam.

Di air terjun Saluopa ini kita hanya berjalan datar saja diatara lebatnya pepohonan.  Wow… ini mungkin air terjun terbaik di Indonesia! Air terjun dengan ketinggian 25 meter yang terdiri dari 12 tingkat. Pengunjung bisa menikmati setiap tingkat dengan menaiki tangga yang tersedia. Kerennya lagi kita bisa dengan nyaman bermain air di air terjun ini tanpa khawatir akan tergelincir, karena bebatuan di dasar sungai ini tidak licin ataupun berlumut, sungguh ini surga tersembunyi di bumi Sulawesi.

Puas menikmati keindahan di air terjun Saluopa, kita pun meluncur menuju penginapan di tepi Danau Poso. Penginapan yang saya singgahi kali ini terletak persis di tepi Danau Poso, hmm hamparan pasir putih dan ombak-ombak kecil membuat kesan seolah olah kita berada di tepi pantai. Tempat ini sangat cocok untuk bersantai bersama keluarga atau teman-teman, suasananya tenang dan damai dengan pemandangan danau yang indah. Malam ini kita habiskan waktu makan bersama tak lupa juga saya mencicipi beberapa makanan khas Tentena yaitu Sogili (semacam belut dengan ukuran besar) dan juga olahan kalong (sejenis kelelawar). Hmm mau tau rasanya kalong?? Rasanya seperti makan karet ban dalam hahahaha.. Item dan alot, tapi tetep saja ledzaat.

23 Juli 2019 - Mandi di Danau Poso

Bangun tidur pagi itu terasa segar, duduk-duduk di tepi danau sambil nunggu matahari terbit. Hamparan pasir putih dan ombak-ombak kecil di danau Poso ini menggoda saya untuk bermain air. Air di danau itu nggak dingin, jadilah pagi itu saya mandi di danau, hmm seperti anak kecil saja bermain air dan bergulung-guling di pinggir danau itu. Sebelum meninggalkan Tentena saya sempat berfoto di jembatan kayu yang membelah sungai besar di hilir danau Poso. Tak lupa juga saya berfoto di tugu yang berbentuk ikan dan Sogili. Sejenak saya juga mampir di sebuah warung di tepi danau itu, hembusan angin sejuk di tepi danau itu membuat saya malas untuk beranjak pergi.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, saatnya saya harus start riding meninggalkan Tentena.  Kira-kira pukul 12, sampailah saya di Poso, di sini saya ditunggu oleh salah seorang teman dari komunitas NMax Poso. Sejenak kita makan siang disini dan bertemu dengan teman-teman yang lain. Kira-kira pukul 13:30 saya start meninggalkan Poso. Pukul 16:30 sampailah saya di Parigi, kota ini awalnya menjadi target saya untuk tempat beristirahat dan bermalam, karena pada dasarnya saya tidak suka/hobby untuk riding di malam hari. Akan tetapi karena badan saya masih terasa fit dan segar, maka saya urungkan niat saya untuk menginap di kota ini.

Saya tancap gas terus hingga malam, dan rupanya ini menjadi satu-satunya riding malam saya dalam trip Jogja-Manado ini. Dengan menyalakan lampu LED yang saya pasang di Palopo, perlahan lahan saya menyusuri jalan di sepanjang pantai timur ini. Ada beberapa ruas jalan yang sedang diperbaiki dan sangat gelap, kadang saya mempercepat laju kendaraan mengikuti mobil yang berjalan di depan saya.

Pukul 20:00 saya tiba di Tinombo, saya makan malam disini. Tak sengaja saya bertemu dengan Bapak Kapolsek Tinombo di warung makan itu, dan beliau menunjukkan penginapan yang recommended utntuk bermalam di Tinombo, jadilah malam itu saya menginap di Tinombo.

Pagi itu hujan deras saat saya terbangun pukul 4:00, terpaksalah rencana riding subuh ditunda hingga hujan reda. Kira-kira pukul 7:00 mulailah mengeluarkan motor dari penginapan. Diawali dengan hal rutin mengecek oli mesin dan gearbox. Kelar segala persiapan, start riding kira-kira pukul 8 pagi. Perjalanan dari Tinombo ini didonminasi pemandangan tepi pantai dihiasi pohon-pohon kelapa di kiri dan kanan jalan, keren sekali. Kira-kira pukul 10, tibalah di daerah Mountong, disini kejenuhan mulai melanda, dan rasa kantukpun tak tertahankan.

Perlahan saya mengurangi kecepatan dan berusaha mencari tempat yang nyaman untuk berhenti. Lanjut riding beberapa kilometer tapi belum juga menemukan tempat ataupun warung untuk berhenti. Rasa kantuk makin tak tertahankan. Tibalah di sebuah jalan yang menurun yang berujung pada sebuah tikungan, disinilah saya terlelap sekejap, dan pada saat tersadar terlambat, tikungan sudah terlalu dekat, tak ada waktu untuk bermanuver, akhirnya sayapun terjatuh di luar aspal bersama motor saat berusaha untuk berbelok.

Beruntung motor WL '45 ini dilengkapi dengan engine guard depan dan belakang, sehingga badan kaki dan badan saya tidak ada yang terjepit ataupun tertindih motor, hanya lecet-lecet sedikit pada jaket dan kaos tangan. Sejenak saya bangkit dan terpana melihat motor saya tergeletak dalam kondisi tetap menyala.

Spontan bantuan pun datang, seorang bapak-bapak dan anaknya yang melihat kejadian tersebut dari awal. Selesai menmbantu mendirikan motor, bapak itupun menyarankan  saya untuk istirahat jika mengantuk, yang bikin ngeri bapak tersebut bercerita bahwa sebelumya di tikungan tersebut sudah 2 orang meninggal akibat kecelakaan... hmm serem juga.

Setelah beberapa saat menenangkan diri, sayapun melanjutkan perjalanan. Tak jauh dari lokasi tersebut, akhirnya saya menemukan warung untuk beristirahat dan makan siang. Kira-kira pukul 12 perjalanan saya lanjutkan kembali, sejam kemudian rasa kantuk itu datang lagi, berhentilah saya di sebuah bengkel mobil, di sini saya betistirahat, tidur. Kesempatan berhenti ini saya gunakan sekalian untuk menyuntikkan grease pada springer depan WL yang sedari melewati hutan lindung kemarin mulai berbunyi tanda kekurangan pelumas.

Setelah dirasa cukup istirahat, sayapun melanjutkan perjalanan. Pukul 6 sore akhirnya sayapun sampai di Isimu sekitar 45 km sebelum Gotontalo. Disini sudah ada teman dari forum motor klasik Gorontalo yang telah menunggu kedatangan saya. Sekitar pukul 19:00 sampailah saya di Gorontalo. Malam ini saya pergunakan untuk berbincang-bincang bersama dan bertukar pengalaman satu sama lain sambil menikmati kopi di kedai salah satu rekan penggemar motor klasik juga. Malam semakin larut, tak lupa kami mengambil foto bersama di pusat kota Gorontalo.

25 Juli 2019 - Etape terakhir to Manado

Hari ini adalah etape terakhir menuju Manado. Kalau saya lihat di peta jarak Gorontalo ke Manado terlihat dekat. Saya pikir, ah paling juga 3-4 jam sampai. Tapi setelah saya cermati ternyata jaraknya 400 km..! Lah ini sama saja turing dari Jogja ke Bandung, hmm jauh juga.

Teman2 Gorontalo menyarankan saya untuk lewat jalur Selatan, alasannya jaraknya lebih dekat, lagi pula saya juga punya rencana untuk mampir dulu ke Tomohon, klop lah. Pukul 5:15 saya start dari Gorontalo dikawal oleh 2 orang teman dari komunitas motor klasik Gorontalo. Mereka berdua mengawal saya kira-kira 5 km ke arah luar kota. Setelah say goodbye dengan teman teman, maka saya lanjutkan perjalanan.

Jalan di jalur selatan ini ternyata cukup ekstrim untuk motor tua, jalan naik turun yang curam dan berkelok kelok disertai jurang dalam di sisi sebelah kanan yang langsung mengarah ke laut. Jalur ini cukup berbahaya, apalagi untuk motor yang tidak dalam keadaan fit, seperti rem yang kurang pakem, power yang kurang besar, ataupun kampas kopling yang selip.

Selain itu pengenalan dan penguasaan medan mutlak diperlukan di jalur ini. Di jalur ini saya 2 kali melorot, nggak kuat nanjak, yang disebabkan karena telat memindahkan gigi persneling. Untuk motor tua, terutama sejenis H-D WL perlu sangat ekstra hati-hati disini, karena jika kita terlambat memindah persneling bisa dipastikan motor akan melorot, karena memang sudah menjadi karakter motor jenis ini bahwa gigi persneling tidak mau dipindah secara mendadak dalam posisi RPM tinggi.

Selain itu motor jenis ini juga terkenal powernya seperti “daden geni” (membikin bara api) artinya butuh waktu agar tercapai putaran mesin tertentu sehingga tenaganya bisa full. Jalur naik turun yang curam dan menyusuri pantai ini kurang lebih 30 km. Sempat pula saya berhenti untuk beristirahat di tepi pantai di perbatasan antara Gorontalo dan Sulawesi Utara.

Kira2 pukul 12:00 sampailah saya di kota Kabupaten Pinolosian. Disini saya makan siang ditemani salah seorang bikers Honda Beat kebetulan ketemu di jalan dan menujukkan kepada saya tempat makan yang nyaman. Selesai makan siang saya pun mengambil jalur ke arah Kotamobagu. Masih ada beberapa jalan yang cukup menanjak disini. Kira-kira pukul 2 siang saya berhenti sejenak untuk beristirahat, setelah saya membuka google map, saya baru sadar ternyata saya mengambil jalan yang salah yaitu ke arah jalur utara trans Sulawesi. Itu artinya saya akan langsung menuju ke kota Manado tanpa melewati Tomohon.

Kira-kira pukul 5 sore sampailah saya di Kota Manado dijemput oleh mas Acho, salah seorang biker motor klasik Manado. Senang sekali rasanya akhirnya saya bisa sampai ke kota Manado dengan motor kesayangan dalam keadaan yang baik dan sehat. Duduk di tepi pantai, menikmati minuman hangat sambil melihat sunset sunguh pengalaman tak terlupakan. Malam itu saya habiskan waktu bersama teman2 kmk Manado, tak lupa pula saya menikmati minuman khas Manado yang terkenal, yaitu Cap Tikus.

26 Juli 2019 - Mengunjungi bumi Minahasa and flying home

Pagi itu saya bersiap siap untuk berangkat ke Tondano. Entah kenapa pagi itu WL kesayangan nggak mau dihidupkan, saya coba buka busi, tidak ada percikan api. Saya cek platina, apipun tak sampai kesini. Usut punya usut ternyata ada kabel yang kendor antara aki dan platina. Akhirnya sekitar jam 8 saya berangkat menuju Tondano. Dalam perjalanan ke Tondano, saya berhenti di Tomohon untuk beristirahat, ngopi dan bertemu berapa teman.

Sekitar jam 11 sampailah saya di Tondano. Disini saya mengunjungi monument benteng Moraya. Di tempat ini dulu pernah terjadi perang akbar antara para pejuang Minahasa melawan tentara kolonial Belanda. Di monumen ini kita bisa menemukan tonggak-tonggak kayu besar yang dulu merupakan pondasi rumah-rumah suku Minahasa. Di bagian luar monumen, terdapat relief yang menggambarkan awal terbentuknya suku Minahasa. Sedangkan bagian dalam monumen terdapat relief yang menggambarkan perang Tondano. Sungguh membanggakan melihat sejarah perang Tondano yang terjadi tahun 1800-an itu.

Selesai mengunjungi monument Banteng Moraya, saya menuju ke tempat teman kerja saya Om Ogi. Disini saya menitipkan motor H-D WL untuk beberapa waktu. Perjalanan berikutnya masih belum terpikirkan sampai saat ini. Kelar membereskan motor, saya pun pergi ke Bandara Samratulangi untuk terbang ke Jogja dan berkumpul kembali bersama keluarga.

Dengan perjalanan ini saya semakin menyadari bahwa Indonesia sangatlah kaya akan kekayaan alam dan budaya. Catatan lain adalah saya sangat salut dengan kekompakan para bikers di Sulawesi, mereka dengan sukarela berusaha untuk berbuat dengan apa yang mereka bisa untuk membantu kelancaran perjalanan kita layaknya saudara tanpa melihat type/merk motor ataupun club motor kita. Salute untuk para bikes Sulawesi dan terima kasih atas uluran persaudaraanya.

Love Indonesia and You.

Artikel: Wildaf disadur dari catatan Lili Cosmas Sudrajat

Foto: Lili Cosmas Sudrajat.